Selasa, 26 Juli 2016

Yang Sudah Beberapa Tahun Ini

Untuk Saudaraku,

Tiga tahun atau lebih itu sebentar, memang sebentar dari pada menunggu rusaknya sepeda motormu yang (barang kali) jarang kau service tapi tetap masih awet dan setia padamu. Pernah beberapa waktu lalu berjalan melintasi kota antar kota, mungkin kurang asik rasanya atau gula kopi kita yang tak sama takarannya.

Semangatlah saudaraku,

Aku mengenalmu bukanlah seperti aku mengenal buah labu, yang warnanya abu-abu tapi isinya berwarna mentereng, jingga. Saudaraku, kau punya warna lebih dalam jiwamu. Selangkah atau berlari pun ia tak pernah pudar, malah pekat berupa malam. Utuh, jiwamu punya warna yang beribu. Tak ingatkah, kau bagikan ilmu kepada orang-orang terdekatmu. Menular jiwa warna-warnimu itu.

Ayolah saudaraku,

Ini tak bisa terus dilarutkan saudaraku. Sepaham dengan ampas kopi yang kita minum beberapa hari lalu. Kita rela kembalikan ia pada pencipta-Nya tanpa minta kembaliannya. Semoga kau tak tergusur oleh rasa dukamu, tak termakan bualan sedihmu. Hidupmu seribu tahun, pernah menulis dan mengajar. Luar biasa. Tak di bayar !

Saudaraku,

Tak mungkin diselipkan khotbah agama di sini. Karena aku ingin bercerita tentangmu saudaraku, bukan pada siapa atau mereka selain kau. Karena tujuan di sini hanya berbagi, bahwa seusiamu saat ini kau tetap dapat menjadi orang hebat dari saudara-saudaramu(aku).

Bukankah seperti itu hidup, orang-orang terdekatmu, mencari, hidup dalam tujuan, tujuan yang sama saudaraku. Hakiki dan bermanfaat buat kebaikkan.

Jangan lupa saudaraku, hidup bukan kotak, ia membentang lebar !

Dari Saudaramu (Aku)

Note : 
  • Tulisan ini tak sengaja diterbitkan, untuk saudaraku yang melarikan diri dan bersembunyi di Bukit Tinggi.
  • Tengah dirundung pelik dengan kabar yang ia anggap 'DUKA'.


Sabtu, 25 Juni 2016

Memorandum Ruwet

Barangkali Tuhan hanya sedang memperhatikanmu saja, seperti saat kau kagum pada suatu hal. Mungkin saja ia hanya sedang ingin berbicara kepada orang lain atau dirinya sendiri, mungkin saja. 

Kepalamu saat ini penuh dengan sampah yang sama sekali tak ingin kau pikirkan, tak ingin terus kau dapati ia sebagai kenyataan. Padahal tak ada urusannya apa yang kau punya dengan apa ilusi / delusi / fantasi yang sering kau tanya-tanya di dalam pikiranmu.


Kebalikannya, disaat keadaan membaik, tanda tanya besar adalah apa yang terjadi pada hidupmu. Setahu ruh ini, hanya mati yang membuat keadaan membaik. Saat urat nadi tak berdenyut seperti dadamu yang berdetak-detak mirip sepatu lokak pejabat negara, adakalanya ia berhenti dan keadaan bukanlah pula membaik melainkan kosong. Matamu yang kosong, telingamu tak mendengar, indera lainnya offline.

"Matilah raga, kembalilah kekosongan."

Kau tak pernah percaya dalam kurun waktu yang lama dan sangat lama tak pernah ada sejarahnya hidup ini membaik. Membaik yang adalah masa depan, walaupun materi terpenuhi, jiwa tak beradu pada keadaan. Alangkah hidup sepertinya sebuah nama.

"Sempurna."

Jika siapapun menjadi alasan, kau tak pernah bisa mengikatnya. Apalagi memintanya mengikat sendiri, inilah disaat kau tak percaya padahal yang berbau metafisika, kau tak percaya pada ilmu pengetahuan, kau tak percaya dan gawat, kau tak percaya pada Tuhan.

Persis saat kau duduk, kau duduk pada kursi yang berskala tumpuan berat berapa. Kau mengetik dengan seberapa kencang dari pada cahaya menyoroti wajahmu, cahaya itu, yang dari laptopmu sebelum redup. 

"Kau seperti bukan apa-apa, berada pada apa, dan tak pernah menyadari apa. Itu bukanlah pernyataan, melainkan siapa kau dan di atas siapa sebenarnya?"

Minggu, 03 April 2016

Akhirnya Begini

Akhirnya, ini adalah tentang sebab dan akibat. Sebuah hukum kausalitas yang begitu penuh dengan berbagai sifat, bukan hanya sebuah kata kerja dalam mata kuliah Bahasa. Kata kerja yang selalu tak terlihat di baris-baris tulisan, yaitu antara kata per kata, spasi.

Akhirnya, ia terselip di antara kata-kata tersebut dan mulai bercerita panjang dalam kertas putih digital yang tak pernah dielus karena tak bisa. Memulainya dengan begitu percaya diri dalam bahasanya sendiri. Bukan pula sebuah kemajuan, apalagi kemunduran. Telah bergerak menjadi harapan-harapan, impian yang In Shaa Allah, Tuhan akan mewujudkan.

Akhirnya, tak mengerti apa maksud di dalamnya, yang begitu lugas diketik-ketik sampai jari terlilit. Ketika hendak mengentak ‘Enter’ dari jarak antara paragraf ke paragraf berikutnya. Jika saja aku bisa memberhentikan itu, tapi ini aneh. Itu harus diteruskan, karena tombol ‘Backspace’ itu telah merasa asing dari tombol A-Z.

Akhirnya, itu telah menjadi sebuah satu kesamaan dalam sejauh mana ingatan. Tak pernah ada kata kerja yang tak dapat diselesaikan manusia. Kecuali kata kerja biasa ini, yang tak habis hanya dalam dunia ini saja. Telah menjelma pada diam yang berirama sunyi. Menjadi sebuah syair yang begitu manis menyerupai surga, tak ter-gambarkan, tak ada penjelasan yang absolut, kadang kala ia dinyanyikan seperti kode-kode rahasia yang sering berubah makna.

Akhirnya, hanya dari sekian per sekian pasang membuka jembatan kesepakatan. Aku duduk pada kursi meja dengan pandangan yang dibatasi besi-besi pagar penyangga. Berputar-putar di bawah sana, ada aksara. Ada gurun yang luas dari warna yang dikenakan. Semakin jauh oleh indra penglihatan, semakin keras pula memanggilnya. Sebab tak terdengar adalah legitimasinya.

Akhirnya, terbawa mimpi. Air laut terasa manis, perahu-perahu itu secepat kilat menuju terbit matahari. Layang-layang jatuh ditekan gravitasi ke perahu itu, sehingga tak lagi dikejar-kejar karena ombak tak pernah ada akhirnya. Semakin lama semakin tinggi mengalahkan gedung pencakar langit.

Akhirnya, tibalah malam dengan segenap kekuatan yang sama-sama telah kita coba. Percayalah, demikian aku juga merasakannya.

“Tempus Fugit, Amor Manet”

Rabu, 02 Maret 2016

Bencana Tuhan dan Insan

Lihat, dalam kerumunan ada jutaan ketakutan.
Mencari matahari keluar jalan, hanya karena cahaya tinggallah bintang dan bulan.

Semakin ramai dan dalam suara bising di jalan.
Telinga ini mengatakan jangan dengarkan.

Sampai telpon bergetar dan bumi telah rapuh bersandar.
Aku lihat, mama.

Orang berteriak seperti berada di pasar malam.
Bahagia atau sekedar bercanda dalam wahana permainan.

Mulut ini sudah lama rapat dalam sudut yang sempit.
Cuma ada senandung ringan, menyebutkan do’a-do’a yang pahit.

Misalnya hari ini adalah kesedihan lagi.
Maka aku telah melihat engkau dalam berjam-jam lalu.

Kursi ini telah membuat tubuh menjadi beku.
Persoalannya hanya dalam sebutan mama dan engkau.

Ada harapan kertas ini akan sampai pada tujuan.
Atau hanyut dalam genangan atau tertutup tanah yang rapat oleh batuan.

Lainnya, Ia bahkan memutuskan kembali soal percobaan.
Ketakutan menjadi syukur dalam sebuah panjatan.

Jadi dalam senyum, aku mengatakan dalam hati.
“Tuhan sudah paham”

Padang, 2 Februari 2016

Selasa, 23 Februari 2016

Sembunyi

Di setiap tidur ada hadiah yang diberikan Tuhan.
Mengenang dalam kesendirian setelah hidup yang panjang.
Katanya.

Aku selalu berpeluang menghadirkan bayangan.

Tapi tak sampai untuk meletakkan arah jalan.
Biarlah, Tuhan.

Tuhan yang menghantarkan dalam gelap yang panjang.
Berharap ada salju turun di tengah perbukitan.
Tempat bersemayam bayi kecil yang periang.


Ada yang bilang.
Ada hidup setelah kematian.
Ada juga kemuliaan di samping pengorbanan.
Kemudian, ada kemudahan di balik perjuangan.

Kepercayaan walau ada, hanya sekedar tiada.
Sekali lagi, biarlah Tuhan.

Sekarang, di ruang sana sedang menceritakan hantu.
Berbisik-bisik menumbuhkan rasa ingin tahu.

Lantas harus apa saat semuanya kembali rindu.
Bernisan batu, bersebelahan dengan mereka yang membisu.
 

Aku tak hilang akal walau sudah membatu.
Biar mengeras dan menua.
Biar rapuh oleh si cuaca.
Biar terkikis karena duka.

Tetap dalam semua ingatan.
Karena sembunyi-sembunyi adalah kehilangan yang berbunyi.
Kali ini biarkanlah aku, Tuhan.

Menyepi dan sembunyi.

Padang, 24 Februari 2016

Sabtu, 20 Februari 2016

Mulai Tak Berencana, Akhirnya Malah Tertawa

Sabtu malam lalu kami berpergian, hitung-hitung mencari suasana baru di luar. Kami juga sepakat malam ini “yang penting keluar saja”, mumpung waktu belum terlampau malam. Bersiap pergi keluar. Kami, pertama kali memutuskan arah melewati jalan yang ramai dengan penduduk kota memakai motor. Salah satu tempat nongkrong “doing nothing,” favorit anak-anak di sini.

Tempatnya biasa saja sebenarnya, kedai ‘ngopi’ anak muda, ada kisaran tiga toko dan berjarak-jarakan. Kami juga memelankan motor, melewati toko tersebut. Bukan karena keinginan kami, jalan saat itu memang habis diapit motor dan mobil yang berjejeran, sampai pengkolan depan persimpangan arah jalan kami. Orang-orang juga tak terlalu suka ngopi di dalam toko tersebut, tampaknya. Mereka memlih di luar, duduk ‘memanjang’.


Tak ada pilihan lain, lalu kami mengikuti arus saja, melihat ada kelompok-kelompok di tepi-tepi jalan tersebut, sedang bercerita, main gadget, merapikan pakaiannya, bersorak-sorai, gelak tawa, dan lainnya, sangat bahagia (mungkin).

Berharap kali ini sesuatu akan terjadi, semacam peristiwa gila. Hal-hal aneh yang membuat penasaran, tapi tak juga ada. Mungkin tiba-tiba ada meteor jatuh, lumba-lumba naik motor, kereta api terbang, menarik. Akibat dari macet tadi pikiran pun, ikut nimbrung jadi tidak jelas.

Selesai dari macet “kacang panjang” tadi, salah satu jalan di persimpangan ditutup, terlihat dari plang dilarang jalan (motor). Seseorang lalu mengarahkan jalan kami. Yah, juru parkir. Disebut juru, rasanya juga tak pantas. Masih bocah seumuran jagung, telinga di ‘piercing’, perangai yang susah dijelaskan. Mengatur jalan pun masih tergopoh-gopoh. Memang, ia bukan lulusan atau pernah mengikuti pelatihan polisi lalu lintas. Semuanya otodidak.

Di arahkan kami ke sebuah jalan, kami tahu jalan ini akan membawa kami ke tempat lain lagi. Kedua, ketiga, keempat, kelima, seterusnya. Dimana-mana orang-orangnya juga melakukan hal yang sama. Setelah itu kami berjalan lagi, lagi dan lagi. Dan semuanya juga sama. Itu-itu saja.

Kami berdialog (Sudah di potong, sebagian) :

“Otak kita hari ini ‘dikerjain’ Tuhan, didesain sama untuk berfikir.”, katanya.
“Gak kayak biasanya, mungkin memang karena tak berencana dan bertujuan awalnya”.
“Waktunya juga tiba-tiba”,katanya.
“Pulang ?”
“Sudah direncanakan ?” tanyanya.

Kami pun senyum tertawa, coba menghibur diri. Singkat cerita, malam itu memang rancu dan misterius. Bukan karena lingkungan, kami berbicara tersebut memang tak tahu apa yang menarik (di pikiran kami) malam itu.

Benar juga kalimat ini, entah di mana tahunya, “Bahwa hal sekecil apapun kau harus mempunyai rencana yang jelas dengan niat dari diri.” Termasuk hanya keluar rumah, untuk menghirup udara segar, melihat pemandangan, mengajak jalan badan.

Breathe....

Selasa, 02 Februari 2016

Aku : Terpujilah Engkau Tuhan

Setiap engkau ciptakan begitu beragam seisi alam ini. Termasuk manusia beserta takdir-takdir yang engkau goreskan tinta dalam buku harian-Mu, mungkin. Terhitung beberapa hari yang panas dan hujan tak menentu pekan lalu, sangat menggambarkan bagaimana rupawan manusia yang begitu takut keluar. Entah, takut pada-Mu atau pada keadaan hari itu. Memasuki bulan Februari ini, apakah akan sama lagi seperti cerita terdahulu. Engkau nampakkan belas kasihan, suka cita, kemiskinan, kesenangan, dan tak terhitung lainnya yang Kau buat.

Di setiap genggam-Mu mungkin hanya akan ada debu sekecil mikro yang aku lihat waktu pelajaran saat SMP dulu di laboratorium kimia, itu pun perlu alat bantuan melihatnya. Tentu Kau tak perlu melihatnya dengan alat bantuan. Dahulu yang kuperhatikan hanyalah bentuk dalam setiap benda atau manusia sendiri. Emosi yang berubah setumpuk puing-puingnya, aku tak mengerti, bisa dibilang tak disadari dan didasari.

Memang cepat tumbuh, sudah lebih bisa mengilah dan tak menanggapi hal yang membuatnya akan tersipu malu. Seperti rumput liar yang tumbuh dengan cepat, tinggi menjulang membanggakan diri tapi sangat lemah, tak bisa ia memegang tanah lebih erat. Bergoyang ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang karena angin. Andai saja dan kumohon..

Kau ciptakan jalan tapi manusia begitu buntu, Aku
Lihatlah laut mereka telah berperang
Kadang meruap dari dasar tanah
Terpecah belah
Merambah

Kau ciptakan peran tapi manusia hanya diam, Aku
Orang buta itu sanggup mainkan sulingnya
Di sekitarnya, manusia duduk
menghentakkan kaki
melihatnya atau mendengar

Kau ciptakan keindahan tanpa tapi, Aku
Terimakasih dalam suatu malam
meneteskan begitu saja air mata
semoga ia suka dan mengerti
apa dan mengapa
Aku

    Tiada hari yang begitu melelahkan ketika Tuhan juga bekerja bersama apa yang diciptakannya. Manusia masih sibuk memikirkan manusia lainnya. Bersamaan itu tak ada yang lain. Tuhan menuliskan setiap nama-nama beserta bait apa yang manusia lakukan. Setiap do’a dan usaha manusia Tuhan menakarnya dan sudah sampai sejauh mana. “Kau pantaskan aku sekarang ?”

Sabtu, 30 Januari 2016

Pulang

Kita semua harus pulang yang telah pergi

Pulang mengatakan semuanya untuk pulang

Kita semua harus pulang dan pulang lagi

Pulang menceritakan segalanya untuk pulang

Melakukannya untuk pulang

Segera pulang

Selasa, 26 Januari 2016

Kata "Jangan !"

    Sebuah penilaian terlahir mereka yang berlalu-lalang mengepakkan pesona. Menggairahkan. Bagi mereka, teman yang menyukai hal itu. Kehidupan menjadikan alasan dalam persekongkolan tanpa norma. Disibukkan beberapa peregangan otot. Katanya lepas. Tanpa beban, berarti tak ada satu langkah pun menghadang entah dinding bahkan kerikil kecil yang memberatkan. Riuh saat kedudukan mendewa, bermahkotan bangga. Kebahagian. Belum berani mengatakan dosa.

    Piring-piring kecil digeser-geser, tak berat walau ada gelas di atasnya. Puncak kejayaan akan datang memperebutkan semua yang masuk akal. Lalu mencoba membumi hanguskan. Sang ahli pun berdegup-degup kencang takut ada kekerasan. Lahiriah, semuanya berkumpul bayi-bayi mungil. Tak tau santun. 

    Tiba saja. Seperti rela belajar seklumit totok jarum halus. Di ujung sana di pertengahan antara tempat santai menteri-menteri. Tinggi tiang bersandang, agak mengkilat. Tersohor cahaya ramuan seperti sihir yang menjadikannya pelangi. Lama tegak kedua kakinya menggigil ingin mencium peruntungan di sana. Malu pun ia sedikit.

    Ada yang memanas seketika pecah bising. Menggelegar kompetisi cacing kepanasan. Tak beralun-alun. Sambar-menyambar petir-petir. Dengar saja patukan paruh burung bangkai yang suka menggeretak geram. Heninglah malam, tapi hati pagi dengki dengan kesenangannya.

    Menitik. Ces.. ces.. ces..
    Pelan helusan itu. Hanya melalui kata. “Jangan !”

Minggu, 24 Januari 2016

Kopi 'Kawa' dan Perjalanan Antar Kota di Sumatera Barat (Naskah Pertama)

Sedikit menuai kritik menulis cerita ini. Sebenarnya. Kritik yang dimaksudkan adalah untuk diri sendiri (penulis). Tak seperti biasanya, kenapa ?

Dalam perjalanan kali ini, lebih akuratnya aku akan mencoba menyusun dan menceritakan kembali perjalananku bersama teman. Ini bukan jurnal perjalanan. Bukan. Hanya cerita biasanya. Karena beberapa hal aku sudah melanggar sebuah nilai yang menurutku itu sangat penting. Aku tak mencatat apapun selama perjalanan. Ini disebabkan oleh perjalanan yang sama sekali tak direncanakan. Pikiranku pun terbatas soal jejak dan detail perjalanan. Tapi aku akan mencoba menceritakannya kembali sesuai dengan apa yang ku ingat dan alami.

Jumat, 22 Januari 2016

Padang dan Teman (Naskah Pertama)

Padang, kota ini pertama kali ku injak setelah dulu waktu aku seumuran jagung. Tak ingat betul seberapa banyak pembangunannya ketika itu. Bahkan mungkin aku hanya melewati kota ini seperti air pegunungan saja pergi ke suatu tempat hanya fokus pada tujuannya semata. Padang, tak ada kenangan yang begitu aku ingat. Nihil. Mungkin karena aku memang tak tertarik kota ini atau bagaimana. Tak mengerti.

Rabu, 20 Januari 2016

Ucap Syukur Pada Rindu Zaman Modern Ini

Perasaan satu ini memang sedikit berbeda dari yang lain-lainnya. Memang agak menggaduh dan menggelikan, kadang datang ketika hilang dan ada dalam diam. Oh, sedikit iba kadang dengan orang-orang yang tersudut dan terancam rindu. Orang bilang kadang kampungan, begitu saja dirindukan. Hey manusia karbitan, rindu tak seperti memasang kolor. Dia lebih. Tak hanya tinggal di selangkangan menahan beban. Beban yang tak lebih dari... Ya, kau tahu sendiri beratnya tak lebih dari kacang-kacangan harga seribuan.

Lebih dari itu, pengasingan diri adalah cara-cara teradahulu yang banyak dipakai oleh anak muda zaman sekarang dalam meredam rindu. Ah, meredam ?

Sekiranya bukan seperti itu, iya hanya coba merasakan rindu. Ia bergelut sendiri di tengah lampu-lampu yang biasanya terjadi seketika (malam hari) saja. Berpergian ke suatu tempat yang nyaman dan kadang jika beruntung, ia akan menghasilkan tulisan (puisi). Rindu memang tak bisa dicari kecuali ada beberapa hal. Ia adalah semacam getah di hati untuk kepuasan.

Jika dulu perindu (orang yang rindu) hanya mengenang dalam fantasi. Bercanda dalam fikiran. Sesungguhnya, itu sangat tak bisa lagi dirasakan perindu di zaman modern ini. Mungkin kau yang hidup (modern) ini akan menggila, frustasi, atau bahkan ejakulasi dini. Ups. Kita tak tahu memang.

Enak, kau bahkan tak harus menunggu. Menunggu suaranya. Menunggu wajahnya. Menunggu senyumnya dan lainnya. Semua ada. Kau bahkan terutinitas melihatnya, entah dalam handphone yang ada dalam sakumu saat ini atau layar yang sedang kau tonton ini. Paling tidak hanya sekedar sayup-sayup angin yang berasa sejuk namun sedikit saja waktunya singgah.

Ya sudahlah. Berusaha saja dalam do’a lalu mengambil kemungkinan yang ada. Kita sendiri yang tahu apa yang kita rindukan. Orang lain kadang hanya ingin tahu, tak kurang dari pada tak mau tahu. Tapi memilih menceritakan keorang yang sangat dekat dengan kita itu akan lebih membuat kita terbantu. Paling tidak ia yang dekat, sedikit banyaknya mengerti dengan diri kita. Entah kebetulan atau tidak rindu juga tidak bisa sepenuhnya diungkapkan melalui bahasa. Ia tak berwujud. Sangat sulit dilisankan atau dituliskan.

Benar sekali. Kenyataannya kita mensyukuri yang ada. Memilih tentang bagaimana bersikap apa adanya. Ia hanya sebuah pikiran. Rindu ! ah.

Penulis dan Tulisannya Ini


Hidup di dunia saat ini adalah anugerah sekaligus menggoyah keyakinan. Percaya atau tidak rindu yang terjadi memang terus-terusan serupa yang sedang dialami beberapa waktu belakangan ini. Secuil pertanyaan saja, tentunya darinya. Bingo, ia seperti sedang mencoba membuka pintu yang terbuat dari besi kokoh. Apa lagi jika ia melakukannya bertubi-tubi. Jelas, dia tak memerlukan kunci lagi membukanya. Ia hanya perlu menunggu. Menunggu rindu ini untuk meremukkan baja tadi hingga terurai menjadi biji-biji.

Mengeluarkan seluruh rindu-rindu dari dalam. Dari dalam. Kau benar-benar ajaib, rindu. Tak bisa diperintah. Kau punya gaya sendiri.

Tapi apa yang digaris bawahi di sini adalah ketakutan datang. Dan bisa jadi pembicaraan atau hanya sekedar pertemuan tak akan terjadi lagi. Kalau hanya diteruskan. Muak. Muak pada yang menceritakan. Menceritakan rindu ini.

Kebalikannya, hingga suatu saat kau menyetujui rindu ini dengan sangat terbuka. Aku tak tahan untuk itu. Aduh !

Senin, 18 Januari 2016

Kasak-Kusuk Cinta Murtadais

Ada orang yang menanti karena hanya sebuah ajaran dan ada pula orang yang memulai lebih dulu hanya karena sebuah keterpikatan. Tentu saja, ini adalah kehidupan dan cinta antara sepasang yang penuh keberbedaan. Beberapa kenakalan remaja (cinta) orang menyebutnya, cinta sangat tidak pantas dialami oleh anak kecil bahkan ada pula yang mengatakan remaja pun sebenarnya belum layak melakukan sebuah hubungan (perasaan) cinta. Bicara cinta tentu saja juga bicara rasa (jiwa dan hati) kadang ia tumbuh begitu lamban dan kadang ia begitu subur untuk menjadi tua dan mati. Seribu ibarat cinta tersebar dan banyak yang mendefinisikannya secara unik.

“Cinta adalah ibarat membangun rumah”
“Cinta adalah tentang  keikhlasan”
“Cinta adalah pohon mati yang bisa hidup kembali berkat hujan”
“Cinta adalah buta”
“Cinta adalah cinta”

Well, itu semua adalah cinta. Bagaimana dengan kalian semua ?

Dalam beberapa hubungan, kisah-kisah begitu diceritakan dengan ketentuan antara bahagia dan tidak bahagia. Seorang perempuan adalah manusia ideal dan spesial. Saya benar-benar sepakat.

Laki-laki adalah orang yang berusaha mendapatkan kesepesialan (perempuan) itu. Merunut balik awalnya kehidupan, kitapun tak tau pasti (yang terjadi) jika dinilai dari urutan sumber. Kita hanya tahu bahwa ia laki-laki, ia harus memiliki pasangannya perempuan. Ini ketetapan, hal ini akan terus menurus terjadi regenerasi (yang di luar jalur dikesampingkan dulu). 

Membahas hal ini saya juga sedikit malas. Tapi yang membuat saya tertarik adalah saya pun yakin cepat atau lambat akan merasakan ini juga. Sebagian orang mengatakan, cinta akan membuat akal sehat kita tak akan berfungsi sebagaimana layaknya berfikir logis. Semua di dasari oleh cinta. Oh My God. Benarkah seperti itu ?

Dalam keseharian kita menjalani hidup seakan ada sesuatu yang tak berjalan, yang padahal kita tahu hidup ini tak menunggu kamu jatuh cinta dulu. Menariknya mereka yang jatuh cinta sering kehilangan untuk berfikir secara rasional. Oh C’mon.

Begitu peliknya, ia yang tak tahu tentang bagaimana memulai sebuah hubungan cinta. Dalam berbagai permasalahan yang paling sering saya jumpai adalah pandangan negatif terhadap diri sendiri. (Maaf, saya hanya mengamati bukan tempat untuk curhat. Jika anda tertarik curhat ke saya tentang hubungan asmara anda. Sekali lagi, saya mohon maaf. Walaupun secara kepepet saya pernah mendengar beberapa curhatan teman-teman saya, namun hal itu saya anggap sebagai sebuah kebodohan yang sesat). 

Ketika seseorang mulai jatuh cinta, paling tidak ia lebih mengenal dirinya dan paling banyak tahu tentang keburukannya sendiri. Nah, disaat sudah menjadi sebuah pasangan, keburukan ini bakan tak terlihat lagi. Ia bahkan tertinggal jauh dari ego pribadi. Untung jika kau menemukan orang yang ingin memulai hubungan dengan mencoba perlahan merubah keburukannya menjadi sebuah kebaikkan dan memulai hubungan dengan menyisakan keburukan yang tak mampu ia selesaikan. Karena (perlu dicatat) beberapa hal tentang keburukan tak akan bisa dirubah kecuali secara bersama-sama.

Mungkin saja akan sangat langka seseorang seperti itu (yang mau !). Kalau dilihat lagi perempuan dan laki-laki adalah manusia yang memang benar, saling membutuhkan. Karena cinta tadi, ia bersukarela membantu atau melakukan sesuatu hal. Ini akan berulang-ulang terjadi. Jadi jangan heran ketika kalian melihat teman-teman kalian yang biasanya menulis sastra kisah-kisah kematian (jomblo ngenes kayaknya nih orang), berubah haluan merangkai kata sedemikian rupa, puitis dan penuh tentang perasaan di hati. Karena hanya demi. Ya, hanya !

Maklumi saja. Sekali lagi maklumi saja. Biarkan iya berhalusinasi sampai overdosis tentang cinta. Kasian, fakir asmara. Ia tak memiliki penginapan asmaranya. Cuihh.

Apa lagi ya ?

Tidak usah terlalu milih-milihlah, sederhananya manusia itu satu paket tentang kebaikan dan keburukan. Kalau tetep mau yang sempurna, harganya Rp. 18.500 bungkus besar. Hoalah....suram.

Jadi, beberapa pertanyaan dari saya (sok) !
  1. Apakah manusia yang memperbudak cinta atau cinta memperbudak manusia ?
  2. Bagaimana cinta bereaksi kepada manusia ?
  3. Bukankah manusia adalah makhluk istimewa dibanding makhluk lain karena akalnya, kenapa keistimewaan ini tidak bisa ‘berkuasa’ dibandingkan cinta ?
  4. Lalu di mana perempuan pendamping hidup saya (si penulis) ?
Silahkan jadikan PR, yang bisa jawab langsung saya traktir (masih rahasia).

Catatan :
  • Pertanyaan yang tulisannya bewarna hitam tak perlu dijawab, itu bukan tugas kalian. Itu tugas-Nya ! (Sengaja aja dibuat biar tidak ada yang benar semua)

Minggu, 17 Januari 2016

Gunjingan dan Seorang yang Bernama Ibu

Bersemilah beberapa kenangan masa lalu. Kau tau, seribu musuh itu mencaci abis-abisan seorang anak hanya karena ia miskin dan bekerja. Anak itu bekerja menyudahi kemasan plastik yang berisi kue. Kue yang tersusun rapi di atas rak petak. Ia akan membawanya ke warung-warung yang ada di ujung jalan kota. Berapapun terjualnya, itulah yang ia terima. Kau tau, iya bekerja tak sempat meminta jerihnya. Kadang ia habiskan jerih dari kerjanya itu dengan melihat mamanya tersenyum. Hanya senyum. Romantisnya anak itu. Ia melihat mamanya berdo’a di tengah malam. Sampai-sampai, iya sering terkejut bangun. Kau tau, Ia belum tahu apa-apa waktu itu. Entah apa yang diucapkan oleh mamanya dalam sujud dengan tangan menadah. Tak dipaksakannya bertanya karena mata tak bisa menerima larut malam saat itu. Ia lanjutkan tidur.

Seperti hari biasanya. Masih dengan keadaannya, ia berfikir dan mulai risih dengan mulut itu. Sangat risih. Saat digunjing oleh orang yang melihatnya, ia mulai tergesa-gesa melangkahkan kakinya. Ia bukan malu, ia tak mau lebih sakit lagi dengan mulut-mulut itu. Betapa halus dan mematikan pukulan itu, ia bisa menembus kulit melewati daging dan tak terhadang oleh tulang. Langsung tertancap di hati. Beban ini, membuatnya mulai berlari menahan tangis dengan tangannya. ia tak mengadu. Jika mengadu mamanya bisa lebih sedih darinya, pikirnya.

Di sebuah rumah kosong ia membaringkan badannya. Rumah yang tak berpenghuni, warna dindingnya sudah pudar keabu-abuan, atapnya bolong dan cahaya masuk dari sana menyoroti tubuhnya. Ia bersembunyi dari caci itu, hanya untuk sementara meredam sayatan luka di hati. Tersedu-sedu, berkaca matanya memikirkan kata-kata yang keluar dari mulut orang itu.

Semakin sore, waktupun memaksanya menelan mentah-mentah perkara tadi. Ia melongo ketika sampai di rumah. Duduk di dapur, sebelah tungku batu, buatan mamanya. Lagi-lagi, ia datang bagai tamu tak diundang. Kata dari mulut itu. Kau tahu, akhirnya Ia memberanikan diri. Tersampaikan luapan hatinya pada mamanya.

Hingga akhirnya, mamanya melihatnya dalam, dengan tatapan tajam. Aku tak yakin mamanya akan memukulnya atau memarahinya. Benar. Wanita itu bangkit, dikecupnya kening anaknya dan dipeluknya erat. Seperti ikat mati. Kau tahu, itu adalah peluk mama yang hanya tak ingin anaknya menjadi orang lain. Dibisikkannya perlahan. Seperti dieja-tulis dan distempel dalam jiwa anaknya.

“Kau anakku dan kau bebas menyampaikan apapun padaku. Aku bertanggung jawab atas segala jejak hidupmu. Betapa bahagia hati mama, nak. Jika kau mau berbagi kisahmu. Mama tak mungkin menanyakan itu, karena kau pasti akan menjawab hanya dengan senyum dan kata yang penuh semangat darimu. Sekiranya benar apa yang dikatakan mereka. Katakanlah benar. Tapi jika itu salah ubahlah menjadi suatu kebenaran. Barangkali kau belum memahami lebih dalam. Engkau bekerja untuk hidupmu dan untuk orang lain yaitu aku, mamamu sendiri. Engkau mulia, nak. Lebih dari mereka yang tak bekerja. Kau punya cita-citakan. Kejarlah apa keinginanmu. Hanya itu pegangan hidupku, mamamu ini. Membantu sebisa mungkin mewujudkannya.”

Betapa bisunya ia...... anak itu !

Sabtu, 16 Januari 2016

Ia dan 7 Pikiranku

Ia juga tak mungkin mengatakan “itu”. Ia adalah keluarga terpandang. Beragama dan mematuhi segala aturan budaya dahulu. Tak seperti trend zaman sekarang. Berkeliaran di tengah malam, wara-wiri bersama teman-teman hingga larut pagi. Kalau pun keluar, pastilah kepentingan yang baik. Pikirku yang ke 2. Kali ini, Ia mungkin sedang membuka buku agamanya atau belajar dari buku-buku perkuliahannya. Anggapan masyarakat modern, pasti membosankan sekali. Pernah sesekali ia bercerita, reaksi atas jawaban pun begitu kakunya. Bukan karena benar, ia adalah orang yang kaku. Itu aturan yang dipahaminya dari pelajaran yang telah di pelajarinya. Pikirku yang ke 3. Kadang menghubungkan lisan memang sulit. Aku lebih tertarik tulisan.

Pada dasarnya, ia mungkin juga tidak tertarik dengan peradaban modern sekarang. Ia harus menyesuaikan. Tentunya dengan ajaran dan pengalaman yang telah dilaluinya. Sederhana, bukan, bukan sederhana, tapi ada yang lebih menarik lagi. Caranya. Seperti memikirkan dua orang ibu yang melahirkan satu anak sekaligus. Benar-benar tak ada sampai ke sana. Pikirku yang ke 4. Aku kenal kebanyakan orang, berapapun mereka akan membayar untuk sebuah kisah hidup yang indah. Ia pun begitu. Tapi ia tak menginginkan kisah yang penuh konspirasi. Ia kenyataan. Realistis. Dalam abad ke-20 ini, ia sudah tumbuh besar dan Ia sempat mengetahui keguguran masalah remaja yang suka ditertawakan para orang tua. Ia telah berhasil, berkat inginnya sendiri. Lepas dalam menceritakan segalanya, begitu dekat. Ah, pikirku yang ke 5.

Ia penasaran, ia ingin tahu, haus bercerita dengan kekasihnya. Tuhannya. Mulanya ia tak mungkin melakukannya secara berlebihan dan saat ini pun memang begitu adanya. Orang-orang tak harus tahu, ia dalam keadaan apa. Duka, suka cita, hampa, apapun tak ada yang harus tahu. Ia jarang sangat pilih-pilih waktu. Takut, ia akan perbuatannya. Memang benar perbuatan harus di pertanggung jawabkan. Pikirku yang ke 6.  Aktivitasnya sibuk, tak lekang kehidupan anak harus membantu orang tua maupun keluarganya. Mengantarkan atau sesibuknya ia menemani. Jauh dari gundah, ia harus ada ‘good friends, kurang tepat, ‘best friends’ lebih baik konsepnya. Pikirku yang ke 7. Bagaimana tidak, raut wajahnya. Buat tertawa !

Ia lugu dalam pembicaraan tentang anak muda. Benar atau tidak, ia lugu. Harusnya sekali-kali ia diberi kamus. Kamus remaja, entah akan jadi karangan siapa. Tunggu saja.

Ada yang ketinggalan pikirku yang ke 1. Memang tak harus menyebutkan nama, memang tak harus. Hanya nama. Cukup dikenang.

Kamis, 14 Januari 2016

Cerita Musiman

Huh !!

Dalam kesekian kisahnya dan malam, ribuan luka muncul. Parah. Seperti lukanya si bandar ulung yang suka jelajahi masalah tetangganya. Biarlah, ia yang mencari dan menyelami sampai dikeroyoki. Bonyok. Sakitnya aku awangkan di pikiran, tak lebih sakit dari pada nelangsa ini. Memang musiman ia. Di hati ini.

Terlihat lagi dunia yang kebanyakan tak senonoh ini, barang kali diri ini jumpai ketenangan walaupun membutuhkan jaringan yang katanya memang perlu agar tersambung ke dunia ini. Dunia maya ini benar membangkitkan niat lagi. Terlebih nafsu diri ini menulis-menulis di blog atau media manapun. Jika dulu diri ini merajut tulisan hanya demi mencari recehan, sayang  sekali kali ini benar-benar cerita curhatan ulung si penulis (diri ini maksudnya), tanpa salary sedikitpun. Pasti terjadi, pasti. Mereka bilang itu namanya sugesti biar kelak, sugesti itu tertancap dan tumbuh di hati dan benak ini. Mudah-mudahan saja benar begitu adanya. Tambah motivasi dan semangat baru !

Betapa sulit menerka apa yang terjadi jika nelangsa ini terjadi, kosong, rapuh, hampa, ketidak tahuan, bodoh, sesat, kafir... eh bukan, bablas. Keteladanan manusia pun pasti pernah digoyahkan oleh ini. Benar, tak ada lagi yang bisa diperbuat, mungkin nasib diri ini miskin segalanya. Tapi tak sudi rasanya menyerah begitu saja kalau hanya ‘miskin’ yang menjadi ciptaan nelangsa ini. Jadi sudah sepatutnya salahkan apapun yang ada pada diri ini. Tak kreatif lagi, tak inovatif lagi. Semuanya tentang ide dan yang sudah ada. Yah, kalau dipikir lagi, ruwet. Begitulah kasarnya yang ada dipikiran ini. Kalau saudara, cucu, buyut, pacar, janda eh ? Itu urusan lain lagi, ini tentang diri ini. Dengarkan, jelasnya simak ceritanya tapi jangan dihayati, karena hayati sudah mati di dasar lautan. "Maksudnya ?"

*

Sangat disayangkan Cho Kho Wie.  Ia tak buat Mentri Perasaan dan Pengkondisian Manusia padahal bermanfaat dan efisien untuk rakyat Indonesia. Besar kemungkinan akan ada gedung Komisi Pemberantas GeGaNa (bukan satuan militer). Belum lagi posko-posko galau yang ada di setiap sudut kota sampai desa. Ini akan mempermudah masyarakat di negara ini. Di tambah sumber daya manusia pun akan lebih mumpuni dan tak lagi memikirkan tentang hati yang abstrak ini. Sangat diperlukan memang. Seperti diri ini. Di tambah lagi Sarjana Psikologi dan Psikolog akan laku, tak perlu kelabakan mencari kerja. Lowongan kerja pasti terbuka karena setiap manusia 'complicated' (psikologi banget). Mengurangi pengangguran toh..
.
Karena kebetulan juga aku mahasiswa psikologi dan calon psikolog (amin), yang tak berelegi, apaan sih.. ah ngaur. Sekian dulu !

Tulisan ini adalah semangat baru menulis di blog kembali, dibuat saat teman  ‘se-kos’ sudah tidur karena memang sudah waktunya tidur. Jam 02.04 WIB. Menulis memang sudah jadi candu pada diri ini, ada hal yang hilang jika tak menulis. Ini tulisan hari ini, cuma ini, hanya ini. Oh, sial kau nelangsa. Pergi !

Padang, 03 Januari 2016

Senin, 11 Januari 2016

Sebatang Rokok

Oleh
Boy Hilman

Kusisihkan lengan sebelah kananku
Kutarik secara perlahan yang ada dijemariku
Kurasakan gumaman kalbu yang menggroti mulutku
Hilangkangan masalah dengan menghembuskan secercah asapmu

Tak kalah menarik ditarikan keduamu
Kurasakan kau terus mencoba mempengaruhiku
Kuterjatuh oleh dunia surga yang penuh asap tebalmu
Kucoba mencari kawan dengan segelas pasir hitam untuk menemanimu

Sabtu, 09 Januari 2016

Cerita Singkat Dua Calon Sarjana

    Perjalanan begitu cepat dihabiskan untuk bersama-sama, apa lagi waktu yang berdedikasi tak kenal henti disetiap kehidupan kita yang mencoba merubah keadaan dengan membuat nasib tak kunjung habis-habisan memperkosa manusia. Di balik itu, ada sepasang teman dekat. Mereka bukan dekat karena kembar siam  atau dekat karena satu angkatan apalagi satu jurusan. Saat itu malam bukan sembarang malam, komitmen pertama mereka yang memecah sunyi adalah siapa yang terlebih dahulu wisuda. 

Rabu, 06 Januari 2016

Biang Mabuk Kelabu

Oleh
Boy Hilman

Kupelajari semua yang tersirat dan tidak di wajah bumi ini
Selalu kukabarkan dan evaluasi ditiap-tiap waktunya
Kurencanakan dan kupisahkan kebaikan yang nantinya diganggu oleh seonggok emas dan berlian kekhawatiran
Pastinya, aku tak kan tergoda dan menjadi rencana indah buatku merangkul hasil-hasil jerih yang singgah dahulu
“Sungguh !”
“Benar-benar lelah”
Hingga akhirnya kau berubah bak kepompong yang menjadi kupu-kupu
Semangat-semangat kugadaikan demi memberikan sesuatu hal yang bagiku layak untuk ditampilkan
Penghargaan tak ternilai kutunjukkan sepantasnya
Aku berkaca-kaca dengan meyakinkan diriku
“Aku pantas !”
“Sampai aku benar-benar goyah”
“Kulakukan”
“Kuulangi, terus kuulangi”
“Lagi dan lagi”
Tak ada bunyi dan tak bersuara
Hatiku menghentak logikaku
“Sudah cukup !”
Pertengahan waktu dunia ini kuhabiskan menjadi debu-debu dan kuambil kukembalikam kucicil gelora yang semangat yang membara dahulu
Aku berkeringat, mengucur menurun air di dahiku bersama kesia-siaan
Kutanamkan keyakinan yang nantinya subur tanpa kenangan kau dan penggalan-pengalan itu
“Maafkan ?”
Kau biang yang menggatalkan
Kau biang yang melumpuhkan
Kau biang yang mematikan
Biang yang memeriangkan, menggoyahkan dan mengerikan
“Sebab itu, kau selalu terngiang-ngiang”

Tanjungpinang, 12 Agustus 2015