Sabtu, 16 Desember 2017

Cerita Pendek: Lusa

Saya mau menulis. Di bilik waktu itu ada jendela yang rupanya kotak. Hujan deras, angin kencang membuat basah dan tinggalkan jejak-jejak. Besok terdengar lagi, hari ini hujan atau lusa dari kasurnya.

Jumat, 15 Desember 2017

Quote for

Yang mengenalmu tak akan pernah tahu, mereka sama seperti orang asing, tidak jauh berbeda. Keluarga dan yang kamu anggap keluargalah orang-orang terbaik itu.  - H

Selasa, 12 Desember 2017

There is

Agar sesuatunya mudah dimengerti, agar semuanya mudah di kepala, agar tak terjadi pembacaan cerita kembali, agar di setiap tanjung ada penggal yang ingin diungkap.

Jumat, 08 Desember 2017

Sengaja Menulis Tak Tahu

Memang tak ada yang ditorehkan, dibenakku. Bunyi mesin-mesin buatan cina yang sebentar saja halusnya, tak ubahnya seperti manusia. Hal-hal baru, terus singgah, dikenakan. Yang lama sama-sama kita tahu, siapa yang mau tahu!

Sabtu, 02 Desember 2017

Untitled

Selagi masih bisa merenung, hal yang paling baik untuk diingat adalah masa lalu. Tapi, adapun semua tak pernah baik, ketika manusia terus tumbuh dan berkembang. Segalanya telah menjadi momok yang tak sudi lagi diingat-ingat.

Rabu, 29 November 2017

Mengikis

Air laut yang menghantam terus-terusan dinding pasir membuat siapa pun tak dapat berbuat, seperti pasir, entahlah ia sanggup, menahannya atau membiarkannya luruh. Namun, apapun kejadiannya zaman membuatnya pasti akan ada pilihan yang baru!

Manusia, maksudku

Baiknya, entah apa yang saya baca saat ini
Entah apa yang saya lakukan saat ini

Baiknya, entah apa itu manusia yang bebas, manusia yang tak terperangkap dalam tempurungnya, yang bisa melakukan apa saja, logikanya dan jiwanya.

Selasa, 28 November 2017

Hari Mati Kau

Ditulisnya hari kemarin tanpa ragu, dan hari ini bertanya tentang apa yang dituliskannya, masih di sana letaknya? namun, tak mau lagi melanjutkannya, memang di sanalah tempatnya, laci dengan kata-katanya, sombong, menghilang, yang batang hidungnya tak kelihatan sama sekali

Hari ini ditulisannya menghilang, tanpa kertas putih, tanpa tinta di atas meja, dalam kepalanya bertautan kisah, apa dan mungkin tidak lagi untuk melakukannya, kedua kalinya

Padahal tidak akan mungkin tidak menuliskannya, tidak akan mungkin berhenti mengulangnya, mana mungkin membacanya, dalam keadaan seperti ini hidup akan begitu mudah, dan maaf tai kucingnya, adalah seleranya dari nafsu belaka

Apakah yang sepertinya tak lebih buruk dari binatang jalangnya Chairil, entah kemana saja, tapi sebab waktu menggerus, dulu hingga saat ini. Jadi bukti, mana yang paling dan paling sok pasang badan. Matilah kau dan harimu, matilah kau dalam ilmumu, dalam tulisanmu.

Senin, 27 November 2017

Suara Api

Di sana, dimana-mana
Terdengar ringkih api yang berusaha memadamkan baranya, menyembunyikan asapnya, dan lahir batin menghilangkan cahayanya, sehingga kehidupan hanyalah keras dan cair, rasa hampa.

Sabtu, 18 November 2017

Mana Mungkin

Mana mungkin
Mana mungkin
Baiklah,
Mana mungkin
Hujan sudah turun ke bumi.

Rabu, 15 November 2017

Untitled

Dalam kekosongan, hutan tidak lagi sekelebat semaknya, tidak lagi dewi-dewi mandi di telaga gunungnya
Dalam kekosongan, hanya saja ada yang kosong, mungkin berisi dan berupa, di matamu atau mataku kecewa, isi dan rupa kekosongan
Dalam kekosongan,
membunuh, membunuh, membunuh!
Kelahiranku pada saat matahari di arah barat, saat merah-merah dicintai
Dalam kekosongan manusia, aku dilahirkan, manusia dan aku dilahirkan
Dalam kekosongan hidup, hidup jadi risalah, kekosongan aku di dalammu

Candu

Candi ditembakaumu, candu dibirbirku
Berlumut diwaktu.

Senin, 13 November 2017

...

... keras
tantangan...
kertas, bacaan
... usaha
tekad...
ini, hidupmu.

Jumat, 10 November 2017

Mimpi Pemimpi

Matamu yang tutup berubah mengikuti hening, lelah hari ini adalah mimpi di siang bolong. Banyak ternak dan otak-otak tiada berguna,  kambing, sapi dan anak ayam mengekor di ibunya. Sebrang sana dan kali ini di sebrang sini, lambang nama-nama pemimpi dimuat dalam etalase pondok.

Dilarang mimpi, dilarang berteman dengan si pemimpi. Tulisnya.

Sawah ini akan ubah jadi gedung pencakar langit. Kan diberi nama kota. Orang-orang bisa takbir dengan keras, sekeras otaknya yang berkarang. Lawan! Lawan! Di mimpinya, di mimpiku. Rahasia damai kita, yang tak saling kita ketahui.

Senin, 06 November 2017

Puisi Hujan dan Memori Punyanya Saut Situmorang

maukah kau kucintai dengan cinta yang pernah kecewa? masih murnikah cinta yang pernah kecewa? apakah cinta itu cuma cinta pertama? kalau cinta pertama memang tak punya makna, lantas punya maknakah cinta cinta berikutnya? aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa. maukah kau menerimanya? maukah kau mencintai cinta yang pernah kecewa? aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa, bukan dengan metafora metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu! tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa?

air hujan yang jatuh dari wuwungan rumah selalu mengingatkanku padamu… entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu. apakah air hujan juga selalu mengingatkanmu padaku? entah kenapa, air hujan selalu mengingatkanku padamu.

baiklah aku akan melupakanmu seperti kau sudah melupakan namaku waktu kemaren kita bertemu di tangga tangga batu di kota kecil yang jauh itu. aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat namamu. aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat wajahmu. aku akan melupakanmu tapi aku akan mengingat cintamu, dulu. mana mungkin hujan berhenti turun ke bumi, mana mungkin aku berhenti mengenangmu? mana mungkin kau berhenti melupakanku?

Jogjakarta, 18 April 2013

Saut Situmorang


Puisi ini saya kutip dari blog pribadi beliau (boemiputra). Saya tidak akan membicarakan latar belakang penulis, silahkan google saja. Saya tertarik dan senang saja dengan puisi ini. 

Mengapa saya memilih puisi ini? Karena banyak tanda tanyanya, tinggal menunggu saja. Memang, di samping itu, puisi ini syarat akan alam bawah sadar, siapa yang mau berbicara tentang ini?

Pertama saya tahu, puisi ini sangat enak dibawakan penulisnya, dengan suaranya yang berat dan agak congak menantang, menurut saya. Sangat santai dan pasang badan. Bah!

Selasa, 31 Oktober 2017

Jauh

Suatu hari,
berkelana menjejak kaki di langit-langit bumi
Memang telah usai, bukan?
Duduk di tepian menghitung embun,
Malam ini, apa maumu?
Pergi dari sini atau ikut dengan rinduku ke sana?
Kota yang punya teluk,
melihat cakrawalanya di puncak,
atau saksikan kesedihannya terbenam
Tumbuhlah mencapai langit, kan aku peluk di tubuhnya yang dingin
Bangun-bangun dari hampa yang buat aku sendu
Buat jantungku terpekik, ke arah sana
Pilih aku, pilih aku
Tak peduli, tunjuk dengan telunjukmu,
di dekatku nanti
Biar kupasangkan kau kasih,
dan sayang, bergelantung
Dinamakan bekas-bekas,
maukah?
Syaratnya, berbagi atau dibagi
Dengannya atau denganku
Kekasihmu atau kekasihku
Dimana? Itu,
yang sudah jauh

Senin, 30 Oktober 2017

Dua Orang Penolong

Semoga dua orang itu sukses, diberikan kemudahan karena sifat dan tindakannya menolong sesama dengan sungguh-sungguh.

Sampai-sampai saya lupa menanyakan namanya.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Aku dan Waktu

Kita terbatas waktu sepanjang malam
tapi biarlah,
di waktumu yang mungkin memang sedikit itu
setidaknya ada,

Besok ini atau lusa siapa tahu
sudah tiada,
Setiap waktu tiba orang-orang baru
Aku berusaha mengerti,

Begitulah aku dan waktu
Sama-sama berlalu,
Berdebu

Berlarut-larut

Di ketinggian ada yang tak nampak, dalam rupa dan relung yang mereka hadapi, tentang keadaan hari ini.

Oh, jalan raya
Oh, bibir pantai di ujung sana

Manusia-manusia
Boleh bicara tentang saya?

Jumat, 20 Oktober 2017

Tunggu Mati

Belum juga matahari terbenam,
bulan mengintip di atap biru
Sementara aku duduk termangu,
berlalu waktu, berderu

Sejak kapan aku di sini?

Perlu waktu berfikir,
Matahari menekuk, jingga terukir
Tidak lagi sama, akhir yang tinggal aku
Gelap berkisah pada malam

Sadarlah malamku
Apa yang hendak dituju
Samudera dan kutub-kutub duka
Tempat yang tidak berkisah senang dan bahagia.

Seorang pun tidak lagi, hanyut
Setangkai mawar menunggu mati

Kamis, 19 Oktober 2017

Kembali Terbuka

Jangan ratapi sedihmu yang membuatmu sepi lebih jauh. Jika kamu tahu hadiah terbesar Tuhan adalah kamu sendiri saat ini. Barangkali, coba buka Jejak Langkah dan Rumah Kaca, mungkin di situ.

Selasa, 17 Oktober 2017

Sentuhan Mamiri

Semakin hari, waktu makin mengejar saja. Orang-orang di dalamnya ikut pergi, berlari. Sehingga jauh mereka memencar dan tak lagi ingat atau lupa. Keadaan seperti biasa, sejuk sesekali. Dari angin ke laut, hingga bertubruk pada pasir-pasir penyangga. Menemukan dirinya yang gundah dalam gelap yang terus ombak. Hidupnya sendiri. Yang dia rindukan, sudah memunggungkan badan dijauh hari, berlari dari waktu itu. Jawaban dirinya, masih terus bergema.

Sst

Suara jangkrik adalah suaraku
tenang seketika malam
Sayup alunannya mampu menghiburmu

Aku di luar dengan gelap semak
Mensyaratkan orang-orang agar tenang
Tertidur diwaktumu tak membalas

Minggu, 15 Oktober 2017

Terdapat Cemburu

Begitulah kiranya saat saya mengetahui,

Langkah-langkah terbaik cemburu,
Sekali melangkah sebelumnya tahu niat tertanam.

Terakhir kali berpijak, enggan melihat, cemburu menumpuk berlipat-lipat.

Maka, sudahilah, biarlah.
Secara, bukan satu jalan untuk melihat dan menikmati.

Aku Ini Ada

Kadang saya bertanya-tanya untuk apa semua ini, begitupun semua ini untuk apa?

Setiap kali yang saya sangka, rupanya tiba saja sesuatu yang membuat saya menjadi ada, begitupun sebaliknya menjadi tidak ada.

Lalu siapa untuk apa, atau siapa untuk siapa?

Mengapa kita peduli pada hal yang tak pasti, mengapa ketidakpastian itu harus ada?

Padahal saya sudah berfikir, bagaimana seharusnya yang tidak ada itu adalah saya sendiri.

Badan yang terkatung-katung yang terus mencari sesuatu yang ada.

Semu dengan segala hal yang memenuhi nafas manusia.

Harus diakui bahwa yang ada hanyalah kata-kata melata, yang sangat aneh diucapkan seperti mantra: aku ini ada.

Jumat, 13 Oktober 2017

Rabu, 11 Oktober 2017

Cara Marah

Mari kita pikirkan
Dengan seksama

Angin bertiup di sela kedua telinga

Mari kita hening
Dengan remuk

Hmmm...

Sudahlah,
entah apa mungkin lupa

Minggu, 08 Oktober 2017

Sepotong Kasihan Darinya

Sehingga tidak ada yang bisa dilupakan untuk hari ini, mengapa tidak? Memelukmu seperti cangkir teh panas, dengan gerimis yang membawa ingatannya.

Hangat dan nyaman,

Sehingga tidak ada yang pantas untuk dilupakan, hari ini sampai kemudian harinya, bisa kita bersama? Belum juga dirimu menjawab.

Sepertinya tiada lain, hanya sekedar aku merasa.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Membaca Bukunya

Dalam buku ini tak akan ada lipatan telinga anjing di kertasnya, yang mana pembacanya tak menghargai penulisnya.

Dalam buku ini diselipkan sebuah daun kertas, bagaimana penulis menganggap pembaca karyanya sebagai kekasihnya sendiri.

Seperti dia yang memberi kekasihnya, kala itu.

Kamis, 05 Oktober 2017

Mempertanyakan Kembali

Apakah mungkin kita sampai pada harapan itu? Sejak aku menjadi daratan yang sedang dihujani, dan engkau ikan di laut lepas sana nan jauh.

Selasa, 03 Oktober 2017

Akhir-akhir Ini

Akhir-akhir ini menulis susah sekali.
Ada apa?
Tidak mau cerita?
Dengan siapa?
Tidak mau cerita.

Kamis, 28 September 2017

Sekali Lagi

Sepanjang kita
saat ini apa lagi
Engkau pun sudah tak mau
kembali dan bicarakan elok-elok

Sekali lagi
kita sampai saat ini
Lupa ataupun apa namanya

Sekali lagi, sayang
Kita bicarakan ini kembali

Di sini.

Selasa, 26 September 2017

Di Pagi Ini

Di pagi ini mentari naik lagi, setelah malam petang dihanyutkan awan hitam, hujan.

Di pagi ini, rindu sekali.

Sabtu, 23 September 2017

Berjalan

Saya berjalan seperti seorang teman yang akan siap mati besok.
Ke mana pun akan berjalan dalam sebuah pencarian yang jauh.
Saya akan berjalan seolah saya bersebelahan dengab seorang teman.
Ke mana pun akan mencari apa pun yang seharusnya dicari.
Saya berjalan bagai ditunggu seorang teman yang sudah lama tinggal di sana.
Ke mana pun perginya akan aku telusuri kenangannya dan dia.

Kamis, 21 September 2017

Sederhananya

Dulu pada satu tangkai, ada dua bunga bermekaran. Terakhir ini yang satu jatuh, hingga tumbuhlah yang baru. Menjadi satu tangkai dengan dua bunga kembali, yang dulu dan yang baru. Mereka berdua di tangkai yang sama, yang pernah dulu ditumbuhi bunga, yang kini hanya bisa melihatnya digantikan dari tanah. Menunggu tanpa berpaling sampai akhir hayatnya tiba. Sederhananya, sepertinya.

Rabu, 20 September 2017

Tidak Ada

Sesuatu kadang membuatnya harus terus menundukkan kepala. Lain halnya ketika waktu-waktu yang berbeda.

Sesuatu kadang membuatnya harus terus menjaga rentang yang jauh. Walaupun kadang inginnya ini dan itu.

Sesuatu kadang membuatnya seperti tak harus melakukan apa-apa lagi. Dan tiba-tiba saja rebah di tempat tidurnya kembali.

Minggu, 17 September 2017

Sesuatu yang Didiamkan

Ampunilah aku ini, jika tak pernah jujur, tidakkah benar apa yang aku diamkan ini.

Apa boleh buat, jika terus menggaduh waktumu, aku hanya ingin berpuisi di dalam renungku.

Kalau kau izinkan saja aku, akankah kita tutup September kelabu ini, memikirkanmu malam ke malam.

Dan rupa, hanyalah imajinasiku yang menjelmamu, mengapa sampai seperti ini salahku?

Kalau kau diam, betapa terik lagi sedih dan sepi bertemu, enggan lagi, tanyalah dirimu tentang aku kembali.

Jumat, 15 September 2017

Menerka Harimu Berlalu

Tutuplah waktu pada hari ini,
dan kau sedang menunggu untuk apa? Sembari duduk di sampingmu, khayalku.

Semakin banyak kata tertanam,
di pelupuk ingin bertanya tentang harimu berlalu? Sahut yang hanya semakin samar dan kelam.

Kita mungkin sedang berdua, di tempat langit pikiran kita bicara. Ucap mengucap? Bukan, sebab alasan kian menumpuk dan melawan.

Sekarang, aku ingin ucapkan, dan alasan seketika memberhentikan. Dan seperti apa harimu berlalu, manisku? Tempat-tempat ini menjadi asing, tidakkah bahagiamu itu.

Kamis, 14 September 2017

Keseruan Peta Kaum Muda Indonesia (PKMI) 2017 di Padang Bersama Tempo Institute

Dari awal saya coba membayangkan bagaimana gambaran acara Peta Kaum Muda Indonesia (PKMI) 2017 yang diadakan oleh Tempo Institute. Hal ini dari awal membuat saya penasaran. Sebelumnya info PKMI tersebut saya dapatkan dari grup WhatsApp yang heboh membahas dan menanyakan bagaimana cara pendaftarannya. Sedangkan saya coba menahan diri untuk lebih dulu mencari informasi yang berkaitan di Internet, alhasil sedikit sekali informasi yang saya dapatkan mengenai PKMI ini. Dalam media sosialnya Tempo Institute, saya coba mengulik postingan-postingan yang berkaitan dengan PKMI 2017, sehingga saya sampai pada postingan yang bertuliskan bahwa acara PKMI ini berbeda sekali dengan seminar. Pertanyaan baru pun muncul di kepala saya, “berbedanya bagaimana?” Kembali saya cari postingan dengan tagar #PKMI, hasilnya pun sama, tidak banyak, malah yang keluar aneh-aneh (kemungkinan cara riset saya yang salah atau bagaimana *hahaha).

Jadi informasi mengenai PKMI ini akan coba saya rangkum mengenai riset hemat saya. PKMI atau Peta Kaum Muda Indonesia sudah berlangsung selama tiga tahun pada 2017 ini. PKMI 2017 ini diselenggarakan oleh Tempo Institute dan Friedrich Ebert Stiftung (FES) dan didukung oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Ada beberapa kota yang pernah disambangi oleh Tempo Institute; Jakarta, Bandung, Makasar, Medan, Denpasar, Maumere, dan Kupang. Pada tahun 2017 ini Tempo Institute akan bergerak ke dua kota yaitu ada Pontianak dan Padang. Sesuai dengan temanya ‘Merekam Gagasan, Kegelisahan, dan Pemikiran Anak Indonesia’ tujuan kegiatan ini ingin mengetahui permasalahan yang dipikirkan oleh generasi muda yang akan menjadi sosok untuk menakhodai Indonesia pada tahun 2045, 100 tahun indonesia.

Rabu, 13 September 2017

Orang-orang Lupa

Saat sesuatu kembali pada fitrahnya
Orang-orang kembali pada tempat masa lalu itu
Orang-orang merajut kesedihan di sana
Orang-orang seolah berjanji tidak ingin kembali
Orang-orang lupa pada tempatnya, dimana?
Orang-orang menenun lagi jiwanya
Orang-orang mengenakan yang tidak pernah ada
Orang-orang berserah tanpa enggan menyerah
Orang-orang mengutip nama-nama yang lemah
Orang-orang kembali menyembah

Minggu, 10 September 2017

Untuk Mereka Mama-Papa

Saya senang kalau bisa melihat mama-papa senyum bahagia (walaupun aku lupa kapan itu pernah terjadi) dan saya ingin buat mereka bahagia saat ini hingga seterusnya.

Selalu bahagia orang tuaku, hanya kalian yang berusaha tulus, mengerti dan memahami. Aku rindu, dan bersungguh-sungguh akan berusaha sekeras mungkin melihat senyum itu lagi.

Kamis, 07 September 2017

Tak Bersua

Seumpanya kereta memang belum tiba, apa kita masih bisa duduk bersama? Ya, hanya duduk bersama. Dan mengapa tak mungkin untuk bercerita? Karena dirimu sudah tau, tak ada sepatah kata pun yang menjaminmu lagi untukku.

Seandainya memang terlambat? Mengapa kita tak lagi pernah berjumpa? Sungguh kata kadang sangat berat untuk merangkainya. Sehingga tak pernah sampai pada tujuannya, sekalipun kembali pada pemiliknya.

Kenapa tak lagi sua menjadi tanya? Memang inilah kita. Aku yang memang tak mengerti dan pasrah memintamu pulang.

Rabu, 06 September 2017

Apa Memang Tidak Ada Lagi?

Langit menjadi seperti kepalaku, tanpa badan yang berpijak di bumi.
Penuh dengan awan dua sisi, gelap dan putih.
Sembari beranjak ditiup angin, kadang-kadang hilang.
Sekali pun pernah lewat bak pesawat, begitu tinggal dan mendarat pada kenangan.
Rasanya cepat, bahkan kadang seperti bukan apa-apa di beranda jiwanya.
Kenangan tua tak lagi mengudara, kali saja memang aku yang tak hidup di zamannya dulu.
Pernah ada, museum yang tak lagi menyimpan barang tua atau pun tak berharga.
Memang begitulah sekiranya pikiran yang ada.

Selasa, 05 September 2017

Kabut

Kabut menutup wajahmu yang semakin jauh, tapi sepertinya aku sama sekali tidak pernah berjalan dari sini.

Meneriakkan semua yang dirasa, meminta dengan penuh cita, seandainya.

Hari ini pun hampir berlalu, dan kabut akan digantikan gelap yang lebih merindukan.

Senin, 04 September 2017

Hari Berlalu (9)

Hari ini pun berlalu, mohon pada-Nya untuk tegar.

Hari ini pun berlalu, minta pada-Nya untuk bisa.

Hari ini pun berlalu, dengan-Nya, bahwa memang tak ada hal seperti dulu lagi.

Hari ini pun berlalu, berbuat baiklah kepada siapa saja, pesan-Nya.

Hari Berlalu (8)

Hari ini pun berlalu, ya benar, hujan.

Hari ini pun berlalu, dengan rintik dan awan gelapnya.

Hari ini pun berlalu, tanpa bersama suara yang menerpa dahulu.

Minggu, 03 September 2017

For Her

I wish her to be: loved, kind, grateful, blessed, beautiful, wise patient, and never give up. : )

Hari Berlalu (7)

Hari ini pun berlalu, tanpa kerlip di pelabuhan biru, yang jelas melukiskan takjubmu.

Hari ini pun berlalu, tanpa sesederhana kayu pada api milik Sapardimu.

Hari ini pun berlalu, bagai sedih yang tak bisa diungkapkan Sapardi saat kehilangan hujannya, sayangku.

Jumat, 01 September 2017

Hari Berlalu (6)

Hari ini pun berlalu, entah apa waktumu masih 60 detik untuk 1 menit.

Hari ini pun berlalu, entah harimu hanya terus berada pada barat yang dingin.

Hari ini pun berlalu, mengingatmu setiap waktu sebagaimana aku terus menunggu kabarmu.

Kamis, 31 Agustus 2017

Makan Mahram

Mungkin kamu sedang makan malam, lalu minum meneguk rindu. Tapi, mendiam dalam malam. Tanpa alunan musik 70an, kamu kesal dan puisiku tak cukup memainkan peran nada walaupun sekali saja. Miskin.

Hari Berlalu (5)

Hari ini pun berlalu, kalau diam selama ini bukanlah apa-apa.

Hari ini pun berlalu, kalau akhirnya ini hanya keinginan.

Hari ini pun berlalu, seperti aku, yang tak akan, permintaan.

Rabu, 30 Agustus 2017

Bekerja Keras

Saya ingat anak itu dulu berjualan pulsa, namun hari ini saya bertemu dia menjadi seorang penjaga buku di toko.

Sepertinya dia sangat bekerja keras untuk pendidikannya hingga kuliah sampai saat ini, semoga cita-citanya dapat tercapai. Aamiin.

Selasa, 29 Agustus 2017

Teman

Hari ini saya diberikan teman kartu dengan kuota 2 giga, kebetulan paket saya habis.

Hari ini saya berharap ada waktu dan kesempatan juga seperti teman-teman saya.

Minggu, 27 Agustus 2017

Memoar

Saya ingat ketika saya ciptakan "Kura-kura yang Lambat", apalah guna kura-kura seperti itu.

Hari Berlalu (4)

Hari ini pun berlalu, seperti setiap pembalasan, selalu ada yang menaruh dendam.

Hari ini pun berlalu, setiap kesempatan yang hilang, menjadi bagian milik semua orang.

Hari ini pun berlalu, entah masih ada orang-orang itu.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Tidak

Tidak bukan itu,
Hahahahahaha
Pagi ketika itu
Menaiki tangga
Menghirup udara
Segar, waktu berpesan
Kembali tidur

Hari Berlalu (3)

Hari ini pun berlalu, entah terlalu cepat atau lambat memutuskannya, tetap hari berlalu.

Hari ini pun berlalu, seperti bentuknya yang bundar, keesokan hari aku harap cepat.

Hari ini pun berlalu, ibu dan bapakku sudah lama aku tak tahu kabarnya.

Jumat, 25 Agustus 2017

Hari Berlalu (2)

Hari ini pun berlalu, daun-daun jatuh, ranting seketika menjadi sesuatu yang kering.

Hari ini pun berlalu, cuaca selalu berubah, hanya satu tetap, hujan.

Hari ini pun berlalu, yang tidak aku tahu, semua menjadi putih layaknya di musim salju.

Kamis, 24 Agustus 2017

Foto

Isi dalam sebuah foto kadang membuat saya tak perlu lagi bercerita. Sesuatu kadang jauh membuatnya lebih bermakna bahkan tidak terduga oleh saya sendiri. Terkhusus foto kemanusian dan landscape. Ada sesuatu yang membuat perasaan saya berkabung saat melihatnya. Saya harap saya dapat memotret bagian terbaik hidup ini dan kisahnya.

Hari Berlalu

Hari ini pun berlalu, entah bersama siapa bahagia itu.

Hari ini pun berlalu, entah bersama siapa yang pertama dulu.

Hari ini pun berlalu, entah seperti apa keinginanmu.

Saya

A: Orang asing! Hey!
B: Memang saya itu.

Rabu, 23 Agustus 2017

Pulang dan Hidup

Saya hanya ingin pulang, entah kemana, tidak lagi di kota ini.

Saya hanya ingin hidup, entah bagaimana, tidak lagi seperti ini.

Minggu, 16 Juli 2017

Tetap

Kesedihan tidak pernah berhenti, ia hanya berganti wajah. (Keanu Reeves)

Kamis, 29 Juni 2017

Aksara Lara

Tulisanmu semakin aku kenali, yang semakin lama aksaranya hilang, warnanya tak lagi menyala, pudar sehabis itu meredup.

Ingin aku tekuk dada yang sesak mencarinya kemana pun, namun tak dapat yang bisa aku temukan, mungkin saja seseorang telah mendapatkannya lebih dulu.

Aku tak lagi mau berlapang dada,  menggoreskan dan memaki akasaranya sendiri, yang sudah lelah memasung kata-kata ini.

Sekian kali aku gagal untuk semuanya denganmu, berkaca, terperangah lagi, dari yang tak pasti hingga berkeluh pada janji, atau terus terang mengapa terjadi sesuatu seperti ini?

Aku ingin mati dalam aksara, yang menghilangkan ini semua, supaya tak lagi bisa dikenal baik tanda atau nama, agar sewaktu semuanya hilang kehidupan seseorang jadi baik-baik saja.

Seperti keinginannya, kehidupannya yang didambakannya itu, aamiin.

2017

Lahir sebagai telur dan terbang sebelum jatuh.
Luka-melukai adalah sama-sama luka, namun berbeda.

Minggu, 25 Juni 2017

Patah Tumbuh Hilang Berganti

Manusia tentu harus patah untuk tumbuh, dan harus kehilangan untuk mendapatkan ganti. Di sana manusia dapat belajar. Mesti yakin, semua hanya untuk yang terbaik. Senang dapat melihatnya seperti saat ini. Tentu kalimat terakhir tadi hanya cara agar seseorang tak benar-benar sakit hati karena penyesalan.

Padang, 2017

Kopi Pinggiran Jalan

Di atas meja merah ini
Antara kopi sepasang kekasih
juga ada perdebatan seru anatar dua sahabat
Asbak menampung ampas-ampas rokok kami
Mulai dari perbincangan yang sendu dari desa hingga kota yang begitu ruwet
Kami nikmati tawa seperti tempat ini
Dua perempuan bergaya modis
Memiliki tato mawar dipergelangan tangannya
Rambutnya diikat membentuk putik padi melengkung di atasnya yang lembut
Sebenarnya yang diciptakan dari kopi kami ini adalah ketepatan rasanya, kontras atau lebih berat sebelah
Aku yakin tidak seperti teman perempuan tadi
Matanya bulat bulan tak memancarkan indah hanya redup dan terang yang susut
Kasihan, cerita kopi pinggir jalan

Padang, 2017

Jumat, 23 Juni 2017

Semua Orang Wajib Bahagia

Walau hanya sekadarnya, hidup tak perlu dilihat dari tolak ukur fisikal. Selama kamu baik dan tulus, selama itu pula dunia membahagiakanmu.

Berbahagialah orang yang yakin dengan perbuatannya yang jauh melampaui batas logika.

Selasa, 20 Juni 2017

Pencerahan

Jadilah penerang yang tak bisa redup oleh apapun kecuali kehendak-Nya. Apapun jalan yang kau pilih atau siapa pun yang memilih kau nanti, maka perlu kau sadari apa benar itu kehendak-Nya. Bukankah begitu cara berfikir kau saat ini.

Jangan kembali dan jangan tersesat lagi seperti kisah lampau yang kau alami. Sesungguhnya memang benar yang berlalu adalah pelajaran untuk sesuatu hal ke depan, baik sama atau pun tidak. Semuanya adalah kehendak-Nya, bukan.

Orang yang meninggalkanmu atau orang yang kau tinggalkan, tidaklah benar-benar ada ketika kamu tidak bersedia untuk ada. Jika hal itu terjadi, kau harusnya sudah mengenal diri.

Upayakan yang kau cari, orang-orang yang menolongmu dulu itu, siapa yang peduli, siapa yang mau tahu, kau sebenarnya hanya butuh orang yang ada dan berbeda di setiap potongan waktu.

Selamat atas keberhasilan ini, siapa sangka hanya ada satu manusia di planet ini, sendiri pula.

Jumat, 16 Juni 2017

Tujuan Angin

Dengan angin saya hantarkan pesan-pesan
Sebelum terbit awan hitam kemudian
Karena angin pula jiwa api saya redup
yang sekian lama memancarkan nafasnya

Yang tak pernah saya goyah sebelumnya
Yang tak pernah saya tunduk sebelumnya

Demikianlah angin itu menyampaikan
Dari segala yang tidak memungkinkan
Di saat terang hingga langit kelam

Angin terus mengepung disetiap sudut arah
Melemahkan, meluluhkan kata-kata murka

Sampai sekian angin tertawa
Melajulah kemana pun kamu bisa
Itulah yang utama dari pada memastikannya

Padang, 2017

Kamis, 15 Juni 2017

Waktu Ke Waktu

Apa yang salah dari orang yang menyakitimu
Kadang kala ia berkeluh kesah tentang dirinya
Ada pula waktu berkabung dalam bahagianya 

Apa yang salah dari orang yang menyakitimu
Karena tak ada yang perlu hidup berpura-pura
Sejujurnya kesulitan telah memperlihatkannya

Padang, 2017

Rabu, 14 Juni 2017

Liontin Air Matamu

Di kepalamu ada rahasia yang runtuh
Aku usap lembut menanti luka terbuka
Air matamu menitik melewati garis
Di pergelangan langit-langit
Bintang-bintang terkait sama lain
Di antaranya air matamu membeku
Yang aku kenakan sebagai obat luka
Aku sedih, tapi cara apa yang bisa

Padang, 2017

Jumat, 09 Juni 2017

Satu

Malam,
Siapa yang pergi?
Aku berjalan pelan di sini
Apakah melangkah atau berdiam
Katamu aku pegang teguh
Lihat cahaya itu melihatkan bayanganku
Tak mungkin kau menunggu
Aku di sini melangkah atau berdiam
Tapi tak mungkin bisa mengejarmu
Bayanganku bisikkan itu
Sudah beberapa pekan lalu
Sulit mengucapkannya
Jika sakit, begitu juga aku
Putuskan saja kemana arahmu
Arahku selalu tak ingin jauh darimu
Paling tidak ada petunjuk
Yang baik untuk yang baik
Sebaliknya, aku tidak
Selamat pagi
Karena terlalu lama
Lama sekali sajak ini
Tak dapat aku mengerti
Maaf, selama ini

Padang, 2017