Sabtu, 21 Oktober 2017

Aku dan Waktu

Kita terbatas waktu sepanjang malam
tapi biarlah,
di waktumu yang mungkin memang sedikit itu
setidaknya ada,

Besok ini atau lusa siapa tahu
sudah tiada,
Setiap waktu tiba orang-orang baru
Aku berusaha mengerti,

Begitulah aku dan waktu
Sama-sama berlalu,
Berdebu

Berlarut-larut

Di ketinggian ada yang tak nampak, dalam rupa dan relung yang mereka hadapi, tentang keadaan hari ini.

Oh, jalan raya
Oh, bibir pantai di ujung sana

Manusia-manusia
Boleh bicara tentang saya?

Jumat, 20 Oktober 2017

Tunggu Mati

Belum juga matahari terbenam,
bulan mengintip di atap biru
Sementara aku duduk termangu,
berlalu waktu, berderu

Sejak kapan aku di sini?

Perlu waktu berfikir,
Matahari menekuk, jingga terukir
Tidak lagi sama, akhir yang tinggal aku
Gelap berkisah pada malam

Sadarlah malamku
Apa yang hendak dituju
Samudera dan kutub-kutub duka
Tempat yang tidak berkisah senang dan bahagia.

Seorang pun tidak lagi, hanyut
Setangkai mawar menunggu mati

Kamis, 19 Oktober 2017

Kembali Terbuka

Jangan ratapi sedihmu yang membuatmu sepi lebih jauh. Jika kamu tahu hadiah terbesar Tuhan adalah kamu sendiri saat ini. Barangkali, coba buka Jejak Langkah dan Rumah Kaca, mungkin di situ.

Selasa, 17 Oktober 2017

Sentuhan Mamiri

Semakin hari, waktu makin mengejar saja. Orang-orang di dalamnya ikut pergi, berlari. Sehingga jauh mereka memencar dan tak lagi ingat atau lupa. Keadaan seperti biasa, sejuk sesekali. Dari angin ke laut, hingga bertubruk pada pasir-pasir penyangga. Menemukan dirinya yang gundah dalam gelap yang terus ombak. Hidupnya sendiri. Yang dia rindukan, sudah memunggungkan badan dijauh hari, berlari dari waktu itu. Jawaban dirinya, masih terus bergema.

Sst

Suara jangkrik adalah suaraku
tenang seketika malam
Sayup alunannya mampu menghiburmu

Aku di luar dengan gelap semak
Mensyaratkan orang-orang agar tenang
Tertidur diwaktumu tak membalas

Minggu, 15 Oktober 2017

Terdapat Cemburu

Begitulah kiranya saat saya mengetahui,

Langkah-langkah terbaik cemburu,
Sekali melangkah sebelumnya tahu niat tertanam.

Terakhir kali berpijak, enggan melihat, cemburu menumpuk berlipat-lipat.

Maka, sudahilah, biarlah.
Secara, bukan satu jalan untuk melihat dan menikmati.