Rabu, 20 September 2017

Tidak Ada

Sesuatu kadang membuatnya harus terus menundukkan kepala. Lain halnya ketika waktu-waktu yang berbeda.

Sesuatu kadang membuatnya harus terus menjaga rentang yang jauh. Walaupun kadang inginnya ini dan itu.

Sesuatu kadang membuatnya seperti tak harus melakukan apa-apa lagi. Dan tiba-tiba saja rebah di tempat tidurnya kembali.

Minggu, 17 September 2017

Sesuatu yang Didiamkan

Ampunilah aku ini, jika tak pernah jujur, tidakkah benar apa yang aku diamkan ini.

Apa boleh buat, jika terus menggaduh waktumu, aku hanya ingin berpuisi di dalam renungku.

Kalau kau izinkan saja aku, akankah kita tutup September kelabu ini, memikirkanmu malam ke malam.

Dan rupa, hanyalah imajinasiku yang menjelmamu, mengapa sampai seperti ini salahku?

Kalau kau diam, betapa terik lagi sedih dan sepi bertemu, enggan lagi, tanyalah dirimu tentang aku kembali.

Jumat, 15 September 2017

Menerka Harimu Berlalu

Tutuplah waktu pada hari ini,
dan kau sedang menunggu untuk apa? Sembari duduk di sampingmu, khayalku.

Semakin banyak kata tertanam,
di pelupuk ingin bertanya tentang harimu berlalu? Sahut yang hanya semakin samar dan kelam.

Kita mungkin sedang berdua, di tempat langit pikiran kita bicara. Ucap mengucap? Bukan, sebab alasan kian menumpuk dan melawan.

Sekarang, aku ingin ucapkan, dan alasan seketika memberhentikan. Dan seperti apa harimu berlalu, manisku? Tempat-tempat ini menjadi asing, tidakkah bahagiamu itu.

Kamis, 14 September 2017

Keseruan Peta Kaum Muda Indonesia (PKMI) 2017 di Padang Bersama Tempo Institute

Dari awal saya coba membayangkan bagaimana gambaran acara Peta Kaum Muda Indonesia (PKMI) 2017 yang diadakan oleh Tempo Institute. Hal ini dari awal membuat saya penasaran. Sebelumnya info PKMI tersebut saya dapatkan dari grup WhatsApp yang heboh membahas dan menanyakan bagaimana cara pendaftarannya. Sedangkan saya coba menahan diri untuk lebih dulu mencari informasi yang berkaitan di Internet, alhasil sedikit sekali informasi yang saya dapatkan mengenai PKMI ini. Dalam media sosialnya Tempo Institute, saya coba mengulik postingan-postingan yang berkaitan dengan PKMI 2017, sehingga saya sampai pada postingan yang bertuliskan bahwa acara PKMI ini berbeda sekali dengan seminar. Pertanyaan baru pun muncul di kepala saya, “berbedanya bagaimana?” Kembali saya cari postingan dengan tagar #PKMI, hasilnya pun sama, tidak banyak, malah yang keluar aneh-aneh (kemungkinan cara riset saya yang salah atau bagaimana *hahaha).

Jadi informasi mengenai PKMI ini akan coba saya rangkum mengenai riset hemat saya. PKMI atau Peta Kaum Muda Indonesia sudah berlangsung selama tiga tahun pada 2017 ini. PKMI 2017 ini diselenggarakan oleh Tempo Institute dan Friedrich Ebert Stiftung (FES) dan didukung oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Ada beberapa kota yang pernah disambangi oleh Tempo Institute; Jakarta, Bandung, Makasar, Medan, Denpasar, Maumere, dan Kupang. Pada tahun 2017 ini Tempo Institute akan bergerak ke dua kota yaitu ada Pontianak dan Padang. Sesuai dengan temanya ‘Merekam Gagasan, Kegelisahan, dan Pemikiran Anak Indonesia’ tujuan kegiatan ini ingin mengetahui permasalahan yang dipikirkan oleh generasi muda yang akan menjadi sosok untuk menakhodai Indonesia pada tahun 2045, 100 tahun indonesia.

Rabu, 13 September 2017

Orang-orang Lupa

Saat sesuatu kembali pada fitrahnya
Orang-orang kembali pada tempat masa lalu itu
Orang-orang merajut kesedihan di sana
Orang-orang seolah berjanji tidak ingin kembali
Orang-orang lupa pada tempatnya, dimana?
Orang-orang menenun lagi jiwanya
Orang-orang mengenakan yang tidak pernah ada
Orang-orang berserah tanpa enggan menyerah
Orang-orang mengutip nama-nama yang lemah
Orang-orang kembali menyembah

Minggu, 10 September 2017

Untuk Mereka Mama-Papa

Saya senang kalau bisa melihat mama-papa senyum bahagia (walaupun aku lupa kapan itu pernah terjadi) dan saya ingin buat mereka bahagia saat ini hingga seterusnya.

Selalu bahagia orang tuaku, hanya kalian yang berusaha tulus, mengerti dan memahami. Aku rindu, dan bersungguh-sungguh akan berusaha sekeras mungkin melihat senyum itu lagi.

Kamis, 07 September 2017

Tak Bersua

Seumpanya kereta memang belum tiba, apa kita masih bisa duduk bersama? Ya, hanya duduk bersama. Dan mengapa tak mungkin untuk bercerita? Karena dirimu sudah tau, tak ada sepatah kata pun yang menjaminmu lagi untukku.

Seandainya memang terlambat? Mengapa kita tak lagi pernah berjumpa? Sungguh kata kadang sangat berat untuk merangkainya. Sehingga tak pernah sampai pada tujuannya, sekalipun kembali pada pemiliknya.

Kenapa tak lagi sua menjadi tanya? Memang inilah kita. Aku yang memang tak mengerti dan pasrah memintamu pulang.